6 Mahasiswa UGM terjebak di gunung merapi
Enam mahasiswa Fakultas Teknik UGM selama dua hari tersesat di Gunung Merapi. Saat ditemukan, Selasa (3/2) sekitar pukul 09.30, dalam keadaan lemas akibat kelaparan karena saat mendaki ke puncak Gunung Merapi hanya berbekal sebotol air mineral. Bahkan satu di antaranya, yaitu Zuhri Habibullah (18 th) mengalami patah tulang tangan karena tergelincir ke sungai.
Menurut Ketua Geodesi Pecinta Alam (Geodipa) UGM Arifudin Yusuf, ke-6 mahasiswa beda jurusan ini terdiri Prima Yudha (18 th/Jurusan Geodesi), Rizki Al-Ikhlas (18 th/Geodesi), Fahrul Razi (18 th/Geologi), Sangga Rima (18 th/Geologi), Ikrar Reza (19 th/Geografi), Zuhri Habibullah (Elektro). Para pendaki mahasiswa semester I-III ini 5 di antaranya dari Aceh dan seorang dari Pekanbaru.
Zuhri yang pertama kali ditemukan oleh Rusmanto (34) penduduk Desa Gowok Sabrang setelah tergelincir dari bukit ke Sungai Kali Tringsing. ”Saat ditemukan, dia terkapar di tepian sungai yang kebetulan dekat dengan jalan setapak. Dia lalu diselamatkan dengan cara ditandu menggunakan batang pohon menuju pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan,” kata Rusmanto. Selanjutnya, Zuhri yang asal Aceh ini dilarikan ke RSUD Muntilan.
Sedang kelima pendaki lain ditemukan Kirun (35), yang sedang mencari rumput. ”Saat itu saya sedang mencari rumput di sebelah barat kaki Gunung Merapi. Tiba-tiba ada rombongan pendaki datang dengan tergopoh-gopoh. Dia mengeluh minta tolong tersesat dan minta makanan karena kelaparan,” katanya.
Kirun kemudian meminta tolong warga lainnya mengevakuasi mereka menggunakan sepeda motor untuk membawa ke Pos Pengamatan Gunung Merapi di Babadan. Selanjutnya, mereka menyusul Zuhri dibawa ke RSUD Muntilan.
Prima Yudha kepada KR di tempat kos Jalan Pandega Bakti, Selasa (3/2) menuturkan, ia berenam meninggalkan tempat kos Minggu (1/2) sekitar pukul 14.30 dan tiba di Selo sekitar pukul 17.00.
Malam itu mereka melakukan pendakian dengan rute lewat Selo.
Sekitar pukul 21.00 sampai di daerah Pasar Bubrah, dan mereka pun mendirikan tenda dan bermalam di lokasi ini. Paginya mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak, terlebih saat itu udara terlihat cerah. Karena diperkirakan perjalanan menuju ke puncak Gunung Merapi dan kembali lagi ke Pasar Bubrah tidak terlalu lama, sebagian barang bawaan sengaja ditinggal di dalam tenda, yang dibawa hanya sebotol air minum.
Zuhri membenarkan mereka sempat gembira saat pendakiannya benar-benar sampai di puncak Gunung Merapi, yakni di sekitar Puncak Garuda. Di antara mereka ada yang sempat melakukan sujud syukur. Tanpa diduga, setelah sekitar 15 menit di puncak Merapi, kemudian kabut tebal datang, hujan pun turun disertai angin.
Mereka cepat-cepat turun, namun di tengah perjalanan tersesat, tidak tahu arah sementara kompas penunjuk jalan tidak berfungsi. Mereka berusaha mencari jalan turun dengan menghindari bukit maupun tebing yang ternyata semakin jauh dari jalan turun yang semula diperkirakan di kawasan Magelang Boyolali. Dalam keadaan tidak tahu arah ini mereka hampir putusan harapan.
Mereka pun tidak tahu berada di mana, hingga sekitar pukul 18.00 mereka sampai di lokasi yang mirip dengan aliran lahar, tetapi tidak ada laharnya. Malam itu salah satu di antara mereka, yakni Zuhri, memisahkan diri dengan maksud untuk mencari pertolongan.
Mereka berlima, kata Sangga, kemudian berlindung di balik sebuah bebatuan, yang ada daun-daunnya. Di lokasi ini mereka kemudian tidur hingga pagi hari. Rasa lapar, haus dan kedinginan bercampur pada diri mereka, mengingat minuman air putih yang hanya 1 botol sudah habis saat mereka berada di puncak Merapi. Pagi itu mereka berencana nekad untuk menyusuri sungai, namun sungai tersebut sudah terjal dan susah untuk disusuri.
Mereka kemudian naik ke bukit di sebelah kirinya. Setelah berhasil, mereka berencana akan menaiki sebuah bukit lagi, dengan harapan turunnya mereka tidak lagi lewat bebatuan, tetapi lewat bukit. Saat menyeberang menuju ke bukit yang satunya ini, mereka sempat melihat seseorang dan mereka pun segera minta tolong. Dari kejauhan, orang tersebut meminta mereka untuk turun saja. Setelah menuruni kawasan hutan, mereka berlima dapat bertemu dengan orang tersebut yang kemudian mengantar mereka berlima menuju ke Pos Pengamatan Gunung Merapi di Babadan Kecamatan Dukun Magelang, Selasa siang kemarin. Dari Pos Babadan, mereka kemudian naik kendaraan milik Linmas DIY menuju ke RSUD Muntilan dan di RSUD inilah mereka bertemu lagi dengan Zuhri.
”Dalam perjalanan tersesat itu kami kelaparan, apalagi ketika berangkat mendaki belum makan. Untuk survival makan apa saja yang ditemui di perjalanan, ketemu rumput dimakan dan minum air hujan,” ujar Prima.
Setelah tersesat, Selasa (3/2) kemarin sekitar pukul 09.00 mereka bertemu penduduk yang sedang mencari rumput. Akhirnya mereka dibawa turun dan istirahat di rumah penduduk sempat pula disuguhi makan dan dijemput Tim SAR DIY. Sedang keenamnya baru bertemu kembali di RSUD Muntilan.(KR)
Zuhri yang pertama kali ditemukan oleh Rusmanto (34) penduduk Desa Gowok Sabrang setelah tergelincir dari bukit ke Sungai Kali Tringsing. ”Saat ditemukan, dia terkapar di tepian sungai yang kebetulan dekat dengan jalan setapak. Dia lalu diselamatkan dengan cara ditandu menggunakan batang pohon menuju pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan,” kata Rusmanto. Selanjutnya, Zuhri yang asal Aceh ini dilarikan ke RSUD Muntilan.
Sedang kelima pendaki lain ditemukan Kirun (35), yang sedang mencari rumput. ”Saat itu saya sedang mencari rumput di sebelah barat kaki Gunung Merapi. Tiba-tiba ada rombongan pendaki datang dengan tergopoh-gopoh. Dia mengeluh minta tolong tersesat dan minta makanan karena kelaparan,” katanya.
Kirun kemudian meminta tolong warga lainnya mengevakuasi mereka menggunakan sepeda motor untuk membawa ke Pos Pengamatan Gunung Merapi di Babadan. Selanjutnya, mereka menyusul Zuhri dibawa ke RSUD Muntilan.
Prima Yudha kepada KR di tempat kos Jalan Pandega Bakti, Selasa (3/2) menuturkan, ia berenam meninggalkan tempat kos Minggu (1/2) sekitar pukul 14.30 dan tiba di Selo sekitar pukul 17.00.
Malam itu mereka melakukan pendakian dengan rute lewat Selo.
Sekitar pukul 21.00 sampai di daerah Pasar Bubrah, dan mereka pun mendirikan tenda dan bermalam di lokasi ini. Paginya mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak, terlebih saat itu udara terlihat cerah. Karena diperkirakan perjalanan menuju ke puncak Gunung Merapi dan kembali lagi ke Pasar Bubrah tidak terlalu lama, sebagian barang bawaan sengaja ditinggal di dalam tenda, yang dibawa hanya sebotol air minum.
Zuhri membenarkan mereka sempat gembira saat pendakiannya benar-benar sampai di puncak Gunung Merapi, yakni di sekitar Puncak Garuda. Di antara mereka ada yang sempat melakukan sujud syukur. Tanpa diduga, setelah sekitar 15 menit di puncak Merapi, kemudian kabut tebal datang, hujan pun turun disertai angin.
Mereka cepat-cepat turun, namun di tengah perjalanan tersesat, tidak tahu arah sementara kompas penunjuk jalan tidak berfungsi. Mereka berusaha mencari jalan turun dengan menghindari bukit maupun tebing yang ternyata semakin jauh dari jalan turun yang semula diperkirakan di kawasan Magelang Boyolali. Dalam keadaan tidak tahu arah ini mereka hampir putusan harapan.
Mereka pun tidak tahu berada di mana, hingga sekitar pukul 18.00 mereka sampai di lokasi yang mirip dengan aliran lahar, tetapi tidak ada laharnya. Malam itu salah satu di antara mereka, yakni Zuhri, memisahkan diri dengan maksud untuk mencari pertolongan.
Mereka berlima, kata Sangga, kemudian berlindung di balik sebuah bebatuan, yang ada daun-daunnya. Di lokasi ini mereka kemudian tidur hingga pagi hari. Rasa lapar, haus dan kedinginan bercampur pada diri mereka, mengingat minuman air putih yang hanya 1 botol sudah habis saat mereka berada di puncak Merapi. Pagi itu mereka berencana nekad untuk menyusuri sungai, namun sungai tersebut sudah terjal dan susah untuk disusuri.
Mereka kemudian naik ke bukit di sebelah kirinya. Setelah berhasil, mereka berencana akan menaiki sebuah bukit lagi, dengan harapan turunnya mereka tidak lagi lewat bebatuan, tetapi lewat bukit. Saat menyeberang menuju ke bukit yang satunya ini, mereka sempat melihat seseorang dan mereka pun segera minta tolong. Dari kejauhan, orang tersebut meminta mereka untuk turun saja. Setelah menuruni kawasan hutan, mereka berlima dapat bertemu dengan orang tersebut yang kemudian mengantar mereka berlima menuju ke Pos Pengamatan Gunung Merapi di Babadan Kecamatan Dukun Magelang, Selasa siang kemarin. Dari Pos Babadan, mereka kemudian naik kendaraan milik Linmas DIY menuju ke RSUD Muntilan dan di RSUD inilah mereka bertemu lagi dengan Zuhri.
”Dalam perjalanan tersesat itu kami kelaparan, apalagi ketika berangkat mendaki belum makan. Untuk survival makan apa saja yang ditemui di perjalanan, ketemu rumput dimakan dan minum air hujan,” ujar Prima.
Setelah tersesat, Selasa (3/2) kemarin sekitar pukul 09.00 mereka bertemu penduduk yang sedang mencari rumput. Akhirnya mereka dibawa turun dan istirahat di rumah penduduk sempat pula disuguhi makan dan dijemput Tim SAR DIY. Sedang keenamnya baru bertemu kembali di RSUD Muntilan.(KR)

Post a Comment for "6 Mahasiswa UGM terjebak di gunung merapi"